Damayanti, Agatha Laras (2026) PENGARUH PROPORSI TEPUNG BIJI NANGKA DAN TEPUNG UDANG REBON TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA DAN ORGANOLEPTIK BISKUIT MPASI UNTUK PENCEGAHAN ANEMIA BALITA. Undergraduate thesis, STIKES PANTI RAPIH.
|
Text
Abstrak - Agatha Laras.pdf Download (546kB) |
|
|
Text
BAB1 - Agatha Laras.pdf Download (293kB) |
|
|
Text
BAB 2 - Agatha Laras.pdf Restricted to Repository staff only Download (490kB) |
|
|
Text
BAB 3 - Agatha Laras.pdf Restricted to Repository staff only Download (596kB) |
|
|
Text
BAB 4 - Agatha Laras.pdf Restricted to Repository staff only Download (392kB) |
|
|
Text
BAB 5 - Agatha Laras.pdf Download (212kB) |
|
|
Text
Dafpus Lampiran - Agatha Laras.pdf Download (1MB) |
Abstract
Latar Belakang: Anemia pada balita masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi anemia pada anak usia 0 4 tahun sebesar 23,8%. Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) merupakan makanan bergizi yang diberikan sebagai pendamping ASI ketika ASI saja tidak lagi mencukupi kebutuhan energi dan zat gizi anak. Salah satu bentuk MPASI yang dapat diberikan sebagai makanan selingan adalah biskuit. Tepung biji nangka dan tepung udang rebon berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal untuk meningkatkan nilai gizi biskuit MPASI, terutama protein dan zat besi.Metode: Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu kontrol dan tiga perlakuan serta tiga kali pengulangan. Formulasi terdiri dari F0 (100:0:0), F1 (45:45:10), F2 (45:40:15), dan F3 (45:35:20) untuk tepung terigu, tepung biji nangka, dan tepung udang rebon. Kadar protein dianalisis menggunakan metode Kjeldahl, kadar zat besi menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA), dan uji organoleptik dilakukan pada 39 panelis semi-terlatih. Hasil: Kadar zat besi biskuit berkisar antara 4,005-5,796 mg/100 g dan proporsi tepung biji nangka dan tepung udang rebon tidak berpengaruh terhadap kadar zat besi (p=0,282). Proporsi tepung biji nangka dan tepung udang rebon berpengaruh terhadap kadar protein (p=0,006), dengan kadar tertinggi pada F3 sebesar 13,29%. Proporsi tersebut juga berpengaruh terhadap seluruh parameter organoleptik (p<0,001). F0 memperoleh nilai organoleptik tertinggi, sedangkan di antara formulasi perlakuan F3 memiliki kesukaan keseluruhan tertinggi sebesar 2,50 dan berbeda nyata dengan F1 dan F2. Kesimpulan: Proporsi tepung biji nangka dan tepung udang rebon berpengaruh terhadap kadar protein dan seluruh karakteristik organoleptik, tetapi tidak berpengaruh terhadap kadar zat besi. Di antara formulasi perlakuan, pergeseran proporsi menuju F3, yaitu penurunan tepung biji nangka dan peningkatan tepung udang rebon, menghasilkan kadar protein serta kesukaan keseluruhan tertinggi. Kata kunci: anemia, balita, MPASI, tepung biji nangka, tepung udang rebon.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | STIKes Panti RApih Yogyakarta > Sarjana Gizi S1 Gizi > Masakan |
| Divisions: | Prodi S1 Gizi Prodi S1 Gizi > Masakan |
| Depositing User: | Agatha Laras Damayanti |
| Date Deposited: | 19 Aug 2026 04:57 |
| Last Modified: | 19 Aug 2026 04:57 |
| URI: | http://repository.stikespantirapih.ac.id/id/eprint/3272 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

