HUBUNGAN ANTARA VARIASI KONSUMSI MAKANAN SUMBER PROTEIN HEWANI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 12-23 BULAN DI PUSKESMAS SRANDAKAN

Wuwur, Pius Hendrikus Lagida (2026) HUBUNGAN ANTARA VARIASI KONSUMSI MAKANAN SUMBER PROTEIN HEWANI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 12-23 BULAN DI PUSKESMAS SRANDAKAN. Undergraduate thesis, STIKES PANTI RAPIH.

[img] Text
BAB1 .pdf

Download (153kB)
[img] Text
BAB 2.pdf

Download (488kB)
[img] Text
BAB 3.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (311kB) | Request a copy
[img] Text
BAB 4.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (277kB) | Request a copy
[img] Text
BAB 5.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (126kB) | Request a copy
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (259kB)
[img] Text
LAMPIRAN.pdf

Download (2MB)
[img] Text
“HUBUNGAN_ANTARA_VARIASI_KONSUMSI_MAKANAN_SUMBER_PROTEIN_HEWANI_number.pdf

Download (510kB)

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kronis gizi yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan menurut umur di bawah -2 standar deviasi berdasarkan standar WHO. Anak usia 12–23 bulan rentan mengalami stunting karena berada pada periode pertumbuhan yang pesat. Konsumsi protein hewani yang beragam berperan dalam memenuhi kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan anak. Tujuan: Mengetahui hubungan variasi konsumsi makanan sumber protein hewani dengan kejadian stunting pada anak usia 12–23 bulan di Puskesmas Srandakan. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 138 anak dari populasi 185 anak. Data stunting diperoleh dari data sekunder antropometri, sedangkan variasi konsumsi protein hewani diperoleh melalui wawancara menggunakan Food Frekuensi Questionnaire (FFQ). Minimal bervariasi jika mengonsumsi ≥3 jenis sumber protein hewani. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil: Sebanyak 109 anak (79,0%) mengonsumsi protein hewani secara bervariasi dan 29 anak (21,0%) tidak bervariasi. Sebanyak 17 anak (12,3%) mengalami stunting. Terdapat hubungan yang signifikan antara variasi konsumsi protein hewani dengan stunting (p<0,001). Stunting lebih tinggi pada konsumsi tidak bervariasi (51,7%) dibandingkan konsumsi bervariasi (1,8%). Riwayat ASI berhubungan dengan stunting (p=0,020), sedangkan BBLR dan penyakit infeksi tidak berhubungan (p=1,000). Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara variasi konsumsi protein hewani dengan kejadian stunting pada anak usia 12–23 bulan di Puskesmas Srandakan. Peningkatan konsumsi makanan beragam dan bergizi, khususnya protein hewani, diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan mencegah stunting. Kata kunci: variasi konsumsi, protein hewani, stunting, anak usia 12–23 bulan.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Subjects: S1 Gizi > Ilmu Gizi Terapan
Divisions: Prodi S1 Gizi
Depositing User: Pius Hendrikus Lagida Wuwur
Date Deposited: 19 Aug 2026 06:13
Last Modified: 19 Aug 2026 06:13
URI: http://repository.stikespantirapih.ac.id/id/eprint/3204

Actions (login required)

View Item View Item